Langsung ke konten utama

KOMUNIKASI RESIKO BENCANA

 

KOMUNIKASI RESIKO BENCANA

Definisi komunikasi risiko bencana berawal dari dua kata yakni komunikasi dan risiko komunikasi secara umum dapat diartikan sebagai proses penyampaian pesan atau informasi antara sumber dan penerima pesan dengan tujuan memberitahu tentang sesuatu atau mempengaruhi si penerima pesan baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Sedangkan, resiko didefinisikan sebagai hasil dari ketidakpastian, baik berupa peluang maupun ancaman positif atau negatif dari suatu tindakan dan kejadian. Resiko juga merupakan kombinasi dari kemungkinan dan pengaruh atau dampak termasuk persepsi kepentingan.

Oleh karena itu, Komunikasi risiko dapat diartikan sebagai upaya saling bertukar informasi antara perorangan dan kelompok untuk memberi pengetahuan, tanggapan, sikap dan tingkah laku yang berkaitan dengan risiko. Definisi lain yang lebih luas dari komunikasi risiko adalah komunikasi resiko diartikan sebagai suatu cara yang dilakukan oleh pelaku yang berbeda seperti individu, kelompok dan lembaga di mana mereka berkomunikasi secara bergantian dengan orang lain tentang apa itu resiko dan persepsi resiko serta cara menangani resiko dengan menggunakan media yang berbeda.

Konsep komunikasi resiko bencana meliputi proses penilaian resiko manajemen risiko dan komunikasi resiko ketiga hal ini sangat berkaitan. Dimana pada penilaian risiko dapat diketahui terkait identifikasi bahaya, karakteristik bahaya, penilaian keterpaparan, dan teknis ilmu pengetahuan. Sedangkan, pada manajemen risiko setelah dilakukannya penilaian resiko dalam manajemen risiko ini dapat diketahui mengenai profil risiko, kebijakan dan strategi, penilaian dan implementasi, serta monitoring dan review. Dari kedua hal tersebut tentang penilaian resiko dan manajemen resiko perlu dilakukan komunikasi resiko untuk mengetahui strategi komunikasi yang akan disampaikan terkait tentang resiko suatu bencana, pengemasan informasi, penyebaran informasi, serta monitoring dan evaluasi. Dari proses tersebut, maka penilaian risiko akan menghasilkan atau mengetahui informasi terkait adanya risiko ancaman dan kerentanan di masyarakat. Kemudian, akan dilakukan program intervensi sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan perilaku kesiapsiagaan yang diimplementasikan dari usaha manajemen risiko bencana.

Risk Perception. Merupakan salah satu isu penting untuk membangkitkan kesadaran dan mengubah perilaku masyarakat untuk selalu siap siaga dalam menghadapi bencana merupakan pandangan dan sikap masyarakat yang ideal dalam menghadapi suatu bencana. Konsep ini menggarisbawahi terhadap persepsi masyarakat awam yang berbeda dengan persepsi para ahli bencana terkait bencana dan respon serta tindakan yang akan diambilnya.

Masyarakat awam akan melakukan penilaian terhadap ketidakpastian seperti bencana bersandar pada domain affective yaitu dengan mengedepankan emosi, intuisi, stereotip, perasaan dan nilai-nilai budaya. Melalui cara penilaian ini berbeda dengan para ahli yang berdasarkan domain kognitif yaitu mengedepankan fakta, pengetahuan, analisis, sintesis, dan evaluasi terhadap bencana. Perbedaan penilaian atau pertimbangan perlu menjadi dasar bagi para pembuat kebijakan dalam menyusun program komunikasi resiko supaya masyarakat mengambil tindakan yang tepat terhadap bencana.

Konsep risk perception sangat luas dan beragam pembahasannya seperti constructing risk, risk attitude, psychometric paradigm, dan lain sebagainya. Sedangkan beberapa teori yang sering digunakan untuk meneliti konsep ini adalah cultural risk theory, mental models approach, social amplication of risk, expected value/utility theory, prospect theory, conjoint expected theory.

Komunikasi persuasi adalah komunikasi yang mempengaruhi seseorang untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan keinginan pemberi informasi media yang digunakan seperti source, message, channel, receiver dan effect. Hal ini akan memberikan feedback dan berjalan seperti alur atau siklus.

Beberapa paradigma atau pendekatan komunikasi persuasi yang seringkali digunakan dalam penelitian yakni sebagai berikut:

A. Teori klasik komunikasi persuasi yaitu komunikasi dianggap efektif apabila memperhitungkan faktor-faktor seperti source, message, channel, receiver dan konteks.

B.  Plan behavior Theory, yaitu Teori yang menyatakan bahwa prediktor perilaku adalah intensi perilaku dan intensi perilaku dapat dipengaruhi oleh attitude atau sikap subjektif norm atau norma subjektif dan perseved behavioral control atau keyakinan mengontrol perilaku.

C. Elaboration likelihood, model yaitu teori yang dikembangkan oleh Richard E. Petty dan John T. Cacioppo pada tahun 1986 yang menyatakan bahwa perilaku atau tindakan seseorang itu akan dipengaruhi oleh dua jenis rute seseorang ketika menerima pesan yaitu rute central dan peripherial. Pesan yang diolah melalui rute central atau primer akan diolah secara kritis dan di elaborasi atau analisis lebih dalam. Sebaliknya, rute peripherial atau sekunder, pesan ini tidak dielaborasi lebih dalam.

D. Learning theory, yaitu teori yang seringkali disebut sosial kognitif teori. Dimana teori ini pada dasarnya menyatakan bahwa pandangan atau tindakan seseorang itu hasil dari interaksi perilaku, karakteristik pribadi dan lingkungan. Perilaku manusia tidak hanya ditentukan oleh dorongan dari dalam, tetapi juga dari stimulus lingkungan jadi media atau stimulus sangat penting untuk mempengaruhi seseorang.

E. Social Judgment theory, yaitu teori yang dikembangkan oleh Muzafer Sheriff yang memandang bahwa keputusan seseorang itu sebagai hasil dari proses pertimbangan seseorang terhadap pesan dan posisi seseorang dalam memandang pesan tersebut.

F. Information integration theory, yaitu teori yang dikembangkan oleh Fishbein pada dasarnya menyatakan bahwa perilaku seseorang dapat dibentuk atau berubah berdasarkan sejauh mana informasi mendukung apa yang menjadi kepercayaan seseorang dan informasi tersebut memiliki bobot penilaian kepercayaan yang tinggi.

Tujuan dan prinsip dari komunikasi resiko merupakan jembatan antara analisis risiko dan manajemen resiko. Fungsi komunikasi resiko adalah untuk mengelola informasi tentang kondisi bahaya dan dampak yang akan disebar luas kan tentang bencana kepada berbagai pihak yang berkepentingan terutama masyarakat yang terdampak.

Tujuan komunikasi resiko dalam pengelolaan bencana yakni sebagai berikut:

1. Meningkatkan tingkat kesadaran dan pemahaman tentang bahaya kepada semua pihak

2. Meningkatkan perilaku untuk menanggulangi suatu bencana

3. Memberikan pemahaman tentang proses dan mekanisme pengambilan kebijakan tentang komunikasi resiko

4. Mempromosikan keterlibatan sebagai pemangku kepentingan dalam proses komunikasi resiko

5. Membangun hubungan yang kuat, saling percaya, kerjasama antara berbagai pihak dalam rangka mengelola bahaya

6. Pertukaran informasi, pengetahuan, perilaku, praktik-praktik dan persepsi terhadap bencana bagi yang terlibat.

 

Prinsip komunikasi resiko yakni sebagai berikut:

A. Mengetahui target audiens

B. Pemilihan jenis media

C. Melibatkan keahlian tertentu di bidang komunikasi

D. Memanfaatkan sumber informasi yang kredibel

E. Melakukan sharing terkait tanggung jawab

F. Membedakan antara “science” dan “value judgement

G. Menjamin transparansi

Aspek penyampaian komunikasi resiko yakni sebagai berikut:

1.      Kredibilitas

2.      Konteks

3.      Isi pesan

4.      Kejelasan

5.      Kontinuitas dan konsistensi

6.      Jaringan

7.      Kemampuan audiens

Strategi dalam komunikasi resiko pengelolaan bencana terbagi menjadi tiga tahapan yakni sebagai berikut:

1. Komunikasi resiko pra bencana. Pada tahapan ini komunikasi resiko digunakan sebagai suatu cara atau pendekatan untuk menyampaikan atau mentransfer pengetahuan tentang berbagai macam resiko dan tindakan yang perlu dilakukan masyarakat untuk menghindari resiko tersebut. Komunikasi resiko pada tahap pra bencana dirancang untuk memahami dan mengatasi kesenjangan pemahaman masyarakat kesadaran dan pengetahuan masyarakat terkait dengan kejadian-kejadian bencana.

2. Komunikasi resiko tangkap darurat bencana. Pada tahapan ini pemerintah lembaga atau organisasi dan masyarakat perlu bekerjasama untuk menerapkan strategi tanggap darurat yang efektif. Publikasi terhadap informasi menjadi sumber utama. Pada saat tanggap darurat bencana namun sangat penting untuk memastikan masyarakat memiliki akses yang cepat kepada informasi tersebut.

3. Komunikasi resiko pasca bencana. Pada tahapan ini ada dua hal yang harus difokuskan dalam komunikasi pasca bencana. Pertama masyarakat perlu mengembangkan visi yang kuat tentang bagaimana perencanaan dan penataan kota setelah bencana beserta langkah-langkah mitigasi selanjutnya misalnya pertahanan banjir dan bangunan tahan gempa. Kedua visi dan strategi perlu di komunikasi kan kepada pengangkutan kepentingan baik dari sektor seluruh bidang pemerintah dan sektor swasta untuk memastikan kesalahan pada masa lalu tidak terulang lagi dan kerentanan baru tidak diciptakan secara tidak sengaja.



Oleh: Nurfitriani Hanifah (NIM 1908305051)

Sumber: Materi Mata Kuliah Manajemen Bencana 

Komentar