PENILAIAN RESIKO
BENCANA
Penilaian risiko bencana merupakan
suatu proses awal dalam siklus manajemen bencana. Penilaian risiko ini terdiri
dari analisis ancaman atau bahaya, analisis kerentanan dan analisis kapasitas
yang dalam perspektif siklus manajemen termasuk ke dalam tahap perencanaan. Hasil
dari penilaian risiko dapat digunakan sebagai landasan atau pedoman untuk
menyusun kebijakan dan pengelolaan serta strategi untuk pengurangan resiko
bencana. Keefektifan dari pengurangan resiko bencana sangat dipengaruhi oleh
ketepatan dalam mengidentifikasi karakteristik ancaman estimasi frekuensi
kejadian dan besaran nya serta kondisi ekonomi sosial dan budaya yang ada di lingkungan
masyarakat tersebut.
Konsep penilaian risiko bencana
merupakan suatu proses atau metode yang digunakan untuk mengidentifikasi dan
mengetahui suatu ancaman dan faktor-faktor resiko yang berpotensi menyebabkan
bencana menganalisis dan mengevaluasi risiko terkait ancaman menentukan cara
yang tepat untuk mengurangi ancaman atau mengontrol suatu resiko yang akan
terjadi dari suatu bencana
Konsep penilaian risiko bencana menurut UNDP 2017 merumuskan bahwa penilaian resiko secara komprehensif dapat meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
A. Memahami situasi dan kebutuhan masyarakat dalam menghadapi suatu bencana
B. Menilai ancaman
C. Menilai keterpaparan dari suatu bencana yang dialami masyarakat terdampak dan lingkungan sekitarnya
D. Analisis terhadap kerentanan dan kapasitas dalam menghadapi suatu bencana
E. Kerugian yang ditimbulkan sebagai dampak dari analisis suatu bencana
F. Evaluasi dan profiling risiko
G. Formulasi atau revisi pengurangan risiko bencana
Metode penilaian risiko bencana ini
untuk mengetahui ancaman dan kerentanan yang akan terjadi dari suatu terjadinya
bencana dimana ancaman dan kerentanan dana kapasitas dilakukan dengan
menggunakan pendekatan tertentu dan mempertimbangkan berbagai aspek tertentu
pula. Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dapat melalui penelitian, pengamatan,
uji petik, pengumpulan informasi dan pemanfaatan berbagai data tentang ancaman
karakteristik bahaya ketidakberdayaan suatu individu atau masyarakat dari aspek
fisik, ekonomi, sosial dan lingkungan.
Dalam perkembangannya, metode
analisis risiko bencana ini dapat berkembang seiring perkembangan bencana dan
kemajuan ilmu pengetahuan teknologi di mana semakin beragam bencana terjadi dan
teknologi semakin berkembang maka metode analisis risiko bencana juga akan
menyesuaikan dengan perubahan dan perkembangan tersebut.
Dalam melakukan penilaian resiko bencana terdapat dua teknik yakni dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, kualitatif dan kualitatif-kuantitatif. Pada pendekatan kualitatif-kuantitatif teknik yang digunakan yakni sebagai berikut:
1. Computer Assisted Techniques. Merupakan penggunaan software untuk mengoperasikan langkah-langkah analisis terhadap risiko bencana misalnya penggunaan GIS (Georafi Information Spatial) dan penginderaan jauh. Kelebihan dari teknik ini yakni pemetaan lebih bersifat komprehensif namun kekurangannya bergantung pada peralatan dan keahlian seseorang.
2. Event Tree Analysis (ETA). Merupakan analisis yang berbasis konsekuensi suatu kejadian yang telah atau belum terjadi atau suatu komponen telah atau belum gagal. Konsekuensi dari kejadian tersebut diikuti oleh serangkaian potensi kejadian lain. Setiap potensi kejadian lain itu diberikan nilai kemungkinan terjadinya sehingga dapat dihitung variasi output yang mungkin dihasilkan. Kelebihan dari teknik ini yakni memiliki kemampuan dalam menganalisis konsekuensi yang akan terjadi dari suatu kegagalan atau terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan.
3. Fault Tree Analysis (FTA). Merupakan teknik grafik yang menyediakan penjelasan gabungan yang mungkin akan terjadi di dalam sebuah sistem. Teknik ini dapat menghasilkan output yang tidak diinginkan output paling serius yang terpilih disebut top event. Proses analisis menjelaskan bagaimana top event tersebut dapat disebabkan oleh kegagalan satu atau gabungan kejadian lainnya. Kelebihan dari teknik ini dapat mengidentifikasi penyebab utama suatu kegagalan dan menginvestigasikan kendala dan keamanan sistem yang kompleks dan besar. Sedangkan, kekurangan dari teknik ini yakni tidak dapat mengukur kemungkinan yang akan.
4. Geographic Information System (GIS). Merupakan teknik yang berisi penggunaan sistem informasi geografis dan sebuah peralatan yang berbasis komputer untuk pemetaan risiko bencana. Teknologi SIG mengintegrasikan basis data dengan analisis manfaat geografis melalui peta. Kelebihan dari teknik ini yakni memberikan hasil dengan kualitas tinggi yang bisa didapatkan secara manual dan bisa memfasilitasi pengambilan keputusan. Sedangkan, kekurangan dari teknik ini adalah kurangnya sumber daya manusia yang terlatih, kesulitan pertukaran data di sistem yang berbeda-beda, kesulitan dalam memasukkan variabel sosial ekonomi dan lingkungan, serta variasi dalam mengakses komputer dan data yang berkualitas dan detail yang diperlukan untuk analisis.
5. Geospatial Analysis. Merupakan analisis informasi risiko berdasarkan jarak luasan dan volume atau karakteristik spesial yang lain dalam batas geografis menggunakan GIS dan teknik pemetaan bencana. Kelebihan dari Teknik ini adalah dapat mengidentifikasi bahaya dan daerah yang berbahaya pada berbagai skala, mulai dari lokal, regional sampai ke benua dan sudut pandang resiko bukan hanya untuk satu jenis bencana namun juga dari orientasi ke berbagai level relatif keterpaparan.
6. SWOT Analysis. Analisis word merupakan perangkat yang digunakan untuk menilai suatu suatu organisasi mengetahui dan mengidentifikasi ruang lingkup geografis dan kegiatan organisasi tersebut. Analisis ini melihat efektivitas dan tingkat penerimaan serta dukungan anggota komunitas atau institusi lokal. Analisis ini dibagi dalam beberapa aspek yakni kekuatan (strengths), kelemahan (weakness), kesempatan (oppurtunities) dan ancaman (Threats). Kelebihan dari teknik ini adalah dapat mengidentifikasi hubungan antara ancaman yang terlihat dengan kelemahan organisasi. Kelemahan tersebut berhubungan dengan kesempatan yang berkaitan dengan kekuatan.
Pada pendekatan kuantitatif, teknik-teknik yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Cost Benefit Analysis. Merupakan teknik yang biasa digunakan sebagai upaya penanggulangan yang dapat dilakukan dengan menyeimbangkan dana yang digunakan dalam setiap pilihan dan keuntungan yang akan diperoleh. Kelebihan dari penggunaan teknik ini yakni dapat meyakinkan masyarakat dengan nilai yang lebih pasti terhadap Keuntungan yang diperoleh. Sedangkan, kekurangan dari teknik ini adalah memerlukan data untuk mendapatkan manfaat dan dana yang tidak langsung serta hasil pengukuran kurang menguntungkan bagi beberapa pihak.
2. Disaster Risk Indexing. Merupakan teknik yang menggunakan indikator statistik untuk mengukur dan membandingkan berbagai variabel yang dapat mempengaruhi risiko bencana. Adapun kelebihan dari teknik ini yakni efisiensi dalam pengukuran elemen kunci risiko bencana serta dapat diterapkan dengan cepat dan minim biaya. Sedangkan, kekurangan dari teknik ini yakni basis data berada di tingkat lokal dan nasional, akurasi data sangat diperlukan dan tidak dapat menggambarkan suatu resiko secara aktual di setiap wilayah.
3. Enviromental Impact Assesment (EIA). Merupakan suatu pengambilan keputusan dapat menyediakan informasi dampak pada lingkungan akibat suatu aktivitas. Kelebihannya dari teknik ini yakni dapat meyakinkan sektor swasta atau individu untuk mempertimbangkan dampak dari kegiatan mereka pada beberapa kerentanan serta dapat dipergunakan sebagai alat perencanaan untuk menyusun ulang penilaian dampak bencana.
Pada pendekatan kualitatif, teknik-teknik yang dapat digunakan yakni sebagai berikut:
1. Access Model. Merupakan teknik yang digunakan untuk meneliti individu atau kelompok yang relatif rentan terhadap bencana. Kelebihan dari penggunaan teknik ini yakni menyediakan analisis dari kerentanan masyarakat termasuk akar permasalahannya, serta dapat melihat kerentanan mata pencaharian. Kekurangan dari penggunaan teknik ini adalah hanya menjelaskan kerentanan bukan mengukur suatu kerentanan dan tidak dapat digunakan tanpa ke kolektifan data dan analisis.
2. Hazard Mapping. Merupakan teknik yang berisi proses pemetaan dari informasi kebencanaan dengan area studi di berbagai skala dan bidang. Pemetaan ini dapat dilakukan pada satu jenis bencana seperti peta patahan atau banjir. Selain itu, juga pemetaan ini dapat dilakukan pada beberapa jenis bencana yang dikombinasikan dalam satu peta untuk memberikan gambaran dan komposit atau gabungan dari bencana alam.
Kelebihan dari penggunaan teknik ini yakni dapat melihat bentuk visual informasi bagi pihak pengambil keputusan dan dalam melakukan perencanaan yang mudah dimengerti, serta peta multi bencana memberikan kemungkinan rekomendasi teknik dalam mitigasi secara bersama-sama. Suatu daerah memerlukan informasi yang lebih, penilaian lanjutan atau dapat diidentifikasi teknik khusus untuk menurunkan ancaman bencana. Kemudian, kekurangan dari penggunaan teknik ini yakni volume informasi yang dibutuhkan untuk manajemen bencana alam terutama dalam konteks integrasi perencanaan pembangunan, seringkali melebihi kapasitas metode manual sehingga mendorong penggunaan teknik bantuan komputer.
3. Historical Analysis. Merupakan analisis terkait informasi sejarah untuk menjelaskan tingkat risiko Berdasarkan pengalaman dari peristiwa bencana yang sudah lampau atau pernah terjadi. Kelebihan dari penggunaan Teknik ini yakni menyediakan kriteria untuk dimasukkan sebagai bobot relatif yang membedakan dimensi kerentanan dalam penilaian resiko. Sedangkan, kekurangan dalam penggunaan teknik ini yakni kepercayaan desa akan sejarah kebencanaan dan kebutuhan untuk perbaikan, pengelolaan dan pengisian sistematis kebencanaan, serta data terkait kerentanan secara umum terbatas pada kerentanan fisik di mana tergantung pada penilaian sejarah itu sendiri dan dapat menciptakan harapan yang keliru pada kesiapsiagaan bencana.
4. Participatory Analysis. Merupakan teknik analisis risiko yang memperhitungkan orang yang terdampak dalam menentukan masalah dan kebutuhan menentukan solusi untuk mereka dan mengimplementasikan aktivitas yang telah disetujui untuk mendapatkan solusi atau mengevaluasi hasil. Kelebihan dari penggunaan teknik ini yakni terjadi peningkatan kapasitas penciptaan manajemen risiko bencana dalam sikap dan kebiasaan serta wawasan yang lebih mendalam pada masyarakat untuk mendapatkan hasil yang lebih baik kemudian lebih efektif dalam biaya untuk menganalisis jangka panjang daripada didorong oleh faktor eksternal serta analisis ini lebih sesuai karena prosesnya memungkinkan ide yang muncul untuk diuji dan diperhalus atau diperbaiki sebelum diadopsi. Sedangkan, kekurangan dari penggunaan teknik ini yakni kurang sesuai karena kerangka waktu yang kaku, serta adanya kemungkinan perlawanan yang disebabkan oleh faktor yang memegang kekuasaan atau pengaruh yang dominan.
5. Risk Mapping. Merupakan peta risiko yang berisi zona masyarakat atau geografis yang tujuannya untuk mengidentifikasi lokasi dan struktur yang mungkin berdampak pada suatu bencana kemudian. Kelebihan dari penggunaan teknik ini yakni dapat membantu untuk melokalisasi dampak bencana utama dan hasil analisis ini dapat membagi kriteria untuk mengambil keputusan serta dapat juga menyediakan data kejadian masa lalu yang dapat menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat.
Dalam melakukan penilaian risiko bencana terdapat beberapa indikator penilaian yang dapat menjadi acuan atau pedoman yakni sebagai berikut:
A. Analisis resiko berpatok dan tidak terlepas dari suatu parameter, metode pengukuran yang digunakan yakni scoring dan data yang digunakan.
B. Data dan scoring adalah suatu hal dasar dalam penilaian risiko yang dapat dipergunakan untuk menyusun indikator terkait tingkat ancaman, kerentanan dan kapasitas.
C. Pengukuran dapat terdiri dari kuantitatif dan kualitatif.
Adapun tahapan yang dapat dilakukan untuk melakukan penilaian risiko bencana yakni dimulai dari penilaian ancaman. Penilaian ancaman menggunakan indeks ancaman bencana yang terdiri dari dua komponen yaitu kemungkinan terjadinya suatu bencana atau probability. Dan besaran dampak yang pernah tercatat untuk bencana yang terjadi atau magnitude. Kemudian melakukan penilaian kerentanan yang meliputi kerentanan fisik, kerentanan ekonomi, kerentanan sosial, dan kerentanan lingkungan. Terakhir dengan melakukan penilaian kapasitas yang meliputi kapasitas fisik, kapasitas kelembagaan, kapasitas ekonomi dan kapasitas sosial.
Contoh dari indikator kesiapsiagaan ancaman tsunami Yakni dengan melakukan sistem peringatan dini atau SPD kemudian upaya tanggap darurat, kesiapan pengetahuan, kesadaran, persiapan, tindakan respon dan pemulihan kembali yang dilakukan oleh setiap pihak di lingkungan bermasyarakat.
1. Individu, merupakan unit sosial yang menjadi indikator kesiapsiagaan dalam menghadapi tsunami di mana dalam sistem peringatan dini tsunami atau SPDT Yakni dengan mengetahui tanda alarm dari terjadinya tsunami dan mengetahui alat komunikasi SPDT. Respon dari individu ini yakni dengan mengetahui papan nama tsunami, jalur evakuasi atau pengungsian serta mengetahui nomor telepon darurat. Kesiapan masyarakat ini dapat ditandai dengan individu yang mengetahui penyebab tsunami serta mengetahui kondisi bahaya di daerah mereka.
2. Keluarga, sistem peringatan dini tsunami pada unit sosial ini ditandai dengan berbagai informasi SPDT dengan keluarga serta berbagai jalur evakuasi atau pengungsian dengan keluarga. Sedangkan, respon dari unit sosial ini yakni ditandai dengan adanya persiapan peralatan bencana seperti senter, radio, makanan, minuman dan lain sebagainya. Kemudian, kesiapan pada unit sosial ini ditandai dengan berbagai informasi kondisi bahaya dengan anggota keluarga serta berdiskusi dan berbagi informasi tsunami yang terjadi pada masa lalu atau peristiwa tsunami yang sudah pernah terjadi dengan anggota keluarga.
3. Komunitas, sistem peringatan dini tsunami pada unit sosial komunitas yakni ditandai dengan memahami SPDT yang telah dikembangkan komunitas, berpartisipasi dalam simulasi tsunami yang dilakukan oleh komunitas, serta berkunjung atau berlatih terkait jalur evakuasi atau pengungsian. Sedangkan respon dari unit sosial ini yakni ditandai dengan adanya pembahasan tentang bagaimana harus mempersiapkan diri menghadapi tsunami dengan tetangga atau komunitas, serta menyepakati dengan anggota keluarga dan komunitas pertemuan yang aman ketika akan terjadi suatu bencana tsunami. Kemudian, kesiapan pada unit sosial komunitas ditandai dengan menghadiri pertemuan komunitas yang diselenggarakan oleh komunitas setempat minimal tiga kali setahun serta mengunjungi atau mencari informasi lebih dalam mengenai fasilitas tsunami seperti bangunan untuk evakuasi di komunitas setempat.
4. Masyarakat, sistem peringatan dini tsunami pada unit sosial masyarakat ditandai dengan adanya pemahaman SPDT yang dikembangkan oleh pemerintah serta berpartisipasi dalam pelatihan tsunami yang diselenggarakan oleh pemerintah. Sedangkan, respon dari unit sosial ini yakni ditandai dengan diperolehnya cara untuk menghubungi Pemerintah Daerah atau untuk mendapatkan informasi sebelum dan selama bencana tsunami serta menyimpan atau memiliki nomor telepon keluarga atau orang dari masyarakat luar. Kemudian, kesiapan dalam menghadapi bencana tsunami pada unit sosial ini yakni ditandai dengan menghadiri pertemuan seperti desiminasi, lokakarya dan pelatihan yang diselenggarakan oleh komunitas minimal satu kali setahun serta mencari atau memperbarui informasi terkait tsunami dari sumber informasi atau media yang berbeda dan terpercaya.
Oleh: Nurfitriani Hanifah (NIM 1908305051)
Sumber: Materi Mata Kuliah Manajemen Bencana
Komentar
Posting Komentar